Dhot

Jangan Nonton Film Joker Pas Lagi Banyak Masalah

Joker yang merupakan karakter supervillain dari DC komik telah tayang di bioskop seluruh Indonesia sejak 2 Oktober yang lalu, karakter yang dijuluki Prince Of Crime dari Kota Gotham ini merupakan musuh utama Batman dalam serial komik maupun film-film DC yang telah dirilis. Tapi jangan harap anda akan melihat pertarungan penuh efek CGI yang melibatkan Joker dan Batman seperti dalam film The Dark Knight dan The Dark Knight Rises.

Menikmati Joker versi Joaquin Phoenix anda tak perlu repot-repot menonton Joker versi-versi sebelumnya. Baik itu versi Jared Letto, Heath Ledger, maupun para pemeran pendahulunya. Film Joker yang disutradarai oleh Todd Phillips ini berdiri dengan alur cerita sendiri dan lebih mengeksplorasi sosok manusia pengidap penyakit mental bernama Arthur Fleck hingga bertransformasi menjadi seorang badut sadis yang membunuh untuk sebuah kesenangan.

Dalam film ini kita akan disuguhkan pendalaman karakter Arthur yang bekerja sebagai badut penghibur. Arthur tinggal berdua bersama ibunya di sebuah apartemen kumuh di Kota Gotham. Setting film dibuat pada tahun 1980-an. Pada tahun itu Gotham merupakan kota yang semrawut, korup, kumuh, vandalisme dimana-mana, serta ketimpangan antara orang-orang kaya dan miskin begitu kentara.

Pada dasarnya Arthur adalah pria yang baik hati, ia berkeinginan menjadi seorang komedian dan membawa kebahagiaan pada orang-orang di sekelilingnya. Penyakit mental yang ia alami sering dianggap aneh oleh orang-orang disekitarnya. Arthur sering tak bisa mengontrol tertawanya, dalam dunia medis penyakit ini disebut Pseudobulbar affect dimana penderitanya sering tertawa dalam keadaan tidak terkendali dan sering dalam keadaan yang tidak tepat. Satu-satunya orang yang bisa ia ajak bicara adalah psikiater dari dinas sosial yang disediakan pemerintah kota. Sayangnya pihak pemerintah kota menutup layanan psikiater tersebut dengan alasan keuangan.

Dengan berbagai masalah kehidupan yang ia alami, pelecehan sosial yang sering ia terima, ketimpangan ekonomi di tempat ia tinggal, kesemuanya membuat psikologi Arthur terganggu. Sampai akhirnya ia membunuh tiga orang pemuda kaya yang sedang menggangunya di dalam kereta api. Usai membunuh Arthur merasa lebih tenang, puas, dan tanpa merasa bersalah, begitulah hingga Arthur merubah namanya menjadi Joker dan kerap membunuh orang-orang yang melukai hatinya dan berbeda pandang dengan pemikirannya, salah satu korban pembunuhan Arthur yang paling sadis adalah seorang pembawa acara komedi bernama Murray Franklin yang ia tembak tepat di kepala pada siaran langsung di sebuah stasiun televisi dimana Arthur adalah bintang tamunya.

Pada akhirnya pembelajaran yang bisa kita petik dari film ini adalah “Tidak hanya pada Arthur Fleck, pada diri setiap orang terdapat sesosok Joker dengan napsu kebinatangan masing-masing, bisa jadi Joker dalam diri kita belum keluar atau sengaja masih kita tahan-tahan, tapi dengan segala masalah yang ada, bukan tidak mungkin Joker kamu akan muncul pada sebuah waktu. Bukankah orang jahat merupakan orang baik yang tersakiti? (Arie)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *