Profil Wiranto, Karir, Profesi, hingga Kontroversi.

Membahas Jenderal yang satu ini memang kerap menarik perhatian untuk diperbincangkan, Jenderal TNI (Purn) Dr. H. Wiranto, S.H., S.I.P., M.M tak pernah lepas dari pemberitaan media baik ketika masih berkarir di dunia militer, hingga karir politiknya usai pensiun. Berikut fakta-fakta tentang Wiranto yang telah kami rangkum dari berbagai sumber.

Lahir di Yogyakarta
Wiranto lahir pada tanggal 4 April 1947 dari pasangan RS Wirowijoto dan Suwarsijah. Ayahnya merupakan seorang guru Sekolah Dasar, Pada usia sebulan Wiranto dibawa pindah oleh orang tuanya ke Surakarta akibat Agresi Militer Belanda yang menyerang kota Yogyakarta. Di Surakarta inilah ia kemudian bersekolah hingga menamatkan Sekolah Menengah Atas.

Karir Militer (Dari Ajudan hingga Panglima)
Wiranto lulus dari Akademi Abri (Akabri) pada tahun 1968. Karir militer Wiranto mulai menanjak ketika menjadi ajudan Presiden Soeharto pada tahun 1987-1991, tercatat Wiranto pernah ditunjuk menjadi Kepala Staf Kodam Jaya, Pangdam Jaya, Pangkostrad, hingga Kasad. Pada Maret 1998 ia ditunjuk Soeharto sebagai Panglima TNI yang saat itu masih bernama Abri (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia).

Menjadi Menteri dan Nyapres Usai Pensiun
Di bawah kepemimpinan Abdurrahman Wahid, Wiranto ditunjuk sebagai menteri Koordinator Politik dan Keamanan, namun kemudian ia mengundurkan diri sesuai dengan Surat Resmi yang dikirimkan dan mendapat balasan dari Gusdur. Pada tahun 2004, Wiranto melaju sebagai kandidat presiden dari Partai Golkar berpasangan dengan Salahudin Wahid. Pasangan ini kalah dalam Pemilihan Presiden yang dimenangi pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla. Kegagalan dalam Pilpres 2004 tidak membuat patah semangat Wiranto, tetapi justru menjadi pemicu nalurinya untuk terjun ke dunia politik. Dia kemudian mendirikan Partai Hanura pada tahun 2006. Pada pilpres 2009, Wiranto kembali ikut bertarung sebagai Calon Wakil Presiden berpasangan dengan Calon Presiden Jusuf Kalla. Hasilnya tetap belum memuaskan.

Menjadi Ketua Partai 3 Periode
Pada 21 Desember 2006, Wiranto mendeklarasikan Partai Hati Nurani Rakyat (Partai Hanura) dan tampil sebagai ketua umum partai. Setelah menyelesaikan jabatannya sebagai Ketua Umum Hanura pada periode 2006-2010, dia kembali terpilih untuk masa jabatan yang kedua 2010-2015 dan kembali terpilih lagi pada periode 2015-2020 pada Munas II Hanura yang diadakan pada 13-15 Februari di Solo, Jawa Tengah.

Kontroversi hingga Menjadi Target Pembunuhan
Wiranto diduga terlibat dalam kejahatan perang di Timor Timur saat ini bernama (Republik Demokratik Timor Leste) bersama lima perwira militer lainnya yang diduga terlibat, Wiranto didakwa oleh pengadilan PBB ikut terlibat dalam tindak kekerasan pada tahun 1999 yang terjadi selama dan setelah berlangsungnya referendum kemerdekaan Timor Leste. Pada 10 Oktober 2019 sekitar pukul 11.50 WIB, Wiranto yang saat ini menjabat Menkopolhukam ditusuk dengan senjata tajam oleh seorang pria di Pandeglang, Banten. Akibatnya, Wiranto mengalami luka tusuk di tubuh bagian depan. Tersangka atas nama Syahril Alamsyah alias Abu Rara, kelahiran Medan, 24 Agustus 1988, dan seorang wanita yang diduga bersama pelaku, atas nama Fitri Andriana, kelahiran Brebes, berhasil diamankan