Shakespeare dan Keretakan Dunia

MEDAN (DPR) – Lebih baik tiga jam lebih cepat daripada satu menit terlambat. Begitu seruan Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva mengutip kata-kata bijak William Shakespeare untuk memanggil setiap negara bersama-sama mengatasi keretakan dunia.

IMF menggambarkan dunia memasuki fase genting. Dunia tengah retak dan harus segera membuat keputusan untuk membenahinya.

Dalam pidatonya yang berjudul ”Decelerating Growth Calls for Accelerating Action” pekan lalu (8/10/2019), Georgieva menyebutkan, satu kata kunci untuk mengilustrasikan dampak ketidakpastian sekaligus upaya menumbuhkan kembali ekonomi global adalah fractures.

Perang dagang Amerika Serikat (AS)-China sebagai pemicu utama. Bahkan, perselisihan itu tidak hanya menyangkut AS-China, tetapi juga meluas di antara banyak negara.

Perselisihan itu memicu munculnya masalah-masalah kritis lain. Keretakan dunia saat ini dapat menyebabkan perubahan yang berlangsung satu generasi, memutus rantai pasokan, dan membungkam sektor perdagangan. Hal itu terjadi karena ekonomi setiap negara saling terhubung sehingga banyak negara akan segera merasakan dampaknya.

Dua hari setelahnya, Bank Dunia dalam Laporan Perekonomian Kawasan Asia Timur dan Pasifik berjudul ”Weathering Growing Risks” menyebut risiko pelapukan ekonomi global meningkat. Perang dagang AS-China lagi-lagi disebut sebagai biang keladi ketidakpastian global.

Bank Dunia memperkirakan, pertumbuhan ekonomi kawasan Asia Timur dan Pasifik pada 2019 sebesar 5,8 persen melambat dibandingkan tahun 2018 yang sebesar 6,3 persen. Pelambatan pertumbuhan ekonomi akan berlanjut tahun 2020 dan 2021, masing-masing 5,7 persen dan 5,6 persen.

Untuk kedua kalinya, Bank Dunia juga merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2019 menjadi 5 persen dari sebelumnya 5,2 persen. Perekonomian Indonesia diperkirakan kembali tumbuh 5,1 persen pada 2020 dan 5,2 persen pada 2021.

Sementara IMF menyebutkan, efek kumulatif dari perang dagang dapat mengurangi output produk domestik bruto (PDB) global sebesar 700 miliar dollar AS atau sekitar 0,8 persen PDB dunia pada 2020.

Juli lalu, IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi dunia pada 2019 dan 2020 masing-masing sebesar 3,2 persen dan 3,5 persen. Proyeksi itu lebih rendah dari proyeksi April lalu yang sebesar 3,3 pada 2019 dan 3,6 pada 2020. Khusus Indonesia, pertumbuhan ekonominya diperkirakan 5,2 persen pada 2019 dan 2020.

Lapuk dan retak, begitu gambaran kondisi global terkini sebagaimana disebut dua lembaga internasional itu. Indonesia tengah berada dalam dunia tersebut. Dampaknya sudah terlihat dari pelambatan kinerja neraca perdagangan, kelesuan investasi, dan arus modal yang keluar.

Untung saja makroekonomi Indonesia masih kuat menahan laju pelapukan ekonomi global. Kendati Indeks Daya Saing Global 4.0 Indonesia turun dari peringkat ke-45 pada 2018 menjadi peringkat ke-50 pada 2019, dinamika bisnis dan stabilitas ekonomi makro masih tetap bagus.

Di kawasan Asia Timur dan Pasifik, daya saing global dinamika bisnis Indonesia ada di peringkat ke-29, dan stabilitas ekonomi makro peringkat ke-54. Ini bisa menjadi modal bagi Indonesia untuk semakin meningkatkan ketahanan ekonomi domestik.

Memang, di tengah ketidakpastian global, pertumbuhan ekonomi Indonesia terbantu oleh konsumsi masyarakat. Namun, ke depan Indonesia tidak bisa sepenuhnya bertopang pada pilar itu. Ekspor dan investasi tetap perlu ditumbuhkan.

Momentum pembenahan

Indonesia justru bisa memanfaatkan periode ketidakpastian global ini sebagai waktu jeda. Inilah waktu untuk membenahi pilar-pilar yang rentan terhadap pelapukan ekonomi global, sembari bertumpu pada pilar konsumsi domestik. Dua hal yang masih rentan itu adalah ketergantungan Indonesia terhadap komoditas mentah dan investor asing.

Pemerintah Indonesia dan pemangku kepentingan terkait telah memiliki strategi dan sinergi kebijakan prioritas untuk memitigasi risiko-risiko itu. Salah satunya adalah dengan menerapkan bauran kebijakan di sektor moneter, markroprudensial, fiskal, dan nonfiskal.

Sinergi kebijakan itu akan berfokus pada pengembangan industri manufaktur berorientasi ekspor. Tiga sektor yang diutamakan adalah otomotif, tekstil dan produk tekstil, dan alas kaki.

Untuk itu, akselerasi sinergi kebijakan itu perlu segera dilakukan. Sembari itu, Indonesia bisa menerima panggilan untuk bersama-sama negara-negara lain mengatasi ketidakpastian global. Lebih baik tiga jam lebih cepat daripada satu menit terlambat.(japs/kps)