Pengembang Sambut Baik Penurunan Suku Bunga

JAKARTA (DPR) – Pengembang apresiasi langkah Bank Indonesia dalam menurunkan suku bunga acuan kembali. Hal tersebut dinilai menjadi dorongan bagi industri properti di Indonesia.

Salah satu pengembang yang memberikan apresiasi dari PT Intilad Development Tbk. Theresia Rustandi, Sekretaris Perusahaan Intiland menyebutkan bahwa setiap kebijakan yang memberikan insentif bagi pertumbuhan sangatlah baik.

Baca Juga: REI: Properti Butuh Lebih dari Penurunan Suku Bunga Acuan BI

Walaupun begitu, pihaknya masih menunggu implementasi dari pelaksanaan aturan tersebut. “Jadi ini tinggal tunggu apakah perbankan berkenan melakukan adjustment dengan cepat,” ujarnya, baru baru ini.

Pengembang lainnya yakni dari PT Ciputra Development Tbk. Menurut Harun Hajadi, Direktur Ciputra Developent penurunan suku bunga sangat baik untuk pasar properti.

Hal tersebut tak lepas dari upaya pemerintah untuk meningkatkan daya beli dari konsumen sendiri. “Karena 60% pembeli kami mengambil skema KPR dalam membeli properti,” ujarnya.

Selain itu, penurunan suku bunga ia nilai juga semakin membuka ruang yang lebih besar bagi investor untuk membeli properti.

Ivy Wong, Direktur PT Pakuwon Jati Tbk juga menyatakan hal yang sama. Menurutnya kebijakan yang telah ditetapkan tersebut sangat baik. “Karena kalau masih bisa diturunkan berarti ekonomi masih sehat,” tuturnya.

Baca Juga: Soal Spin Off, Prof Faisar Ananda Arfa : Bank Sumutnya Saja Disyariahkan …!

Walaupun begitu, mereka pun satu suata atas efek dari aturan tersebut belum bisa dirasakan dalam waktu yang cepat. Hal tersebut lantaran juga mortgage rate yang masih tinggi.

Mengutip CNBC Indonesia, berdasarkan data mortgage interest rate percentages di Asia, bunga KPR di Indonesia masuk jajaran tertinggi dengan rata-rata 12%. Sedangkan, di India hanya 9,45%, Vietnam 8,85%, Thailand 5,72%, Malaysia 4,53%, Singapura 2,5%.

Oleh sebab itu mereka menilai perlu waktu untuk bisa merasakan efek dari aturan tersebut. Asal tahu saja, sebelumnya Bank Indonesia membuat kebijakan penurunan suku bunga 5% sehingga suku bugna deposit facility dan lending facility masing-masing turun 25 bps ke level 4,25% dan 5,75%.
Baca Juga: Industri Masih Lesu, Marketing Sales Emiten Properti Turun

Selain dari sisi mortgage rate, Harun menambahkan bahwa kondisi oversupply bisa menjadi sentimen negatifnya. “Tidak bisa memprediksi berapa besar pasar akan terdongkrak, karena ada juga faktor yang mana sebagian kota ada yang kondisinya oversupply dan ada yang tidak,” pungkasnya.(japs/kci)