Kilang Minyak Indonesia Diklaim Tercanggih Sedunia

MEDAN (DPR) – Proyek kilang minyak dan petrokimia di Tuban, Jawa Timur, kini memasuki babak baru. Proyek yang sempat terganjal masalah lahan tersebut dipastikan dapat beroperasi pada 2025.

PT Pertamina telah menandatangani perjanjian dengan Spanish Tecnicas Reunidas SA untuk melaksanakan basic engineering design (BED) dan front-end engineering design (FEED). Proyek tersebut diperkirakan menelan investasi USD 16 miliar atau sekitar Rp 225 triliun.

“Rencananya, Kilang Tuban mulai berjalan pada 2025. Dari titik inilah, klaster industri kimia baru akan tercipta di Tuban. Bagi Pertamina, penandatanganan kali ini merupakan tonggak penting atas kemajuan proyek Kilang Tuban,” urai VP Corporate Communication PT Pertamina Fajriyah Usman, yang direlease Pertamina, baru-baru ini.

Pengembangan kilang memang dilakukan dengan melihat kondisi pasar dan prospek pertumbuhan industri petrokimia di Indonesia yang menjanjikan. Pertamina dan Rosneft pun bersepakat untuk mengembangkan konsep kompleks kilang dan petrokimia yang memiliki daya saing tinggi.

Kilang Tuban sebenarnya digarap PT Pertamina Rosneft Pengolahan dan Petrokimia yang merupakan usaha patungan antara Pertamina dan Rosneft PJSC. PT Pertamina Rosneft Pengolahan dan Petrokimia merupakan joint venture yang dibentuk sejak Oktober 2016 dengan kepemilikan saham Pertamina sebanyak 55 persen dan Rosneft 45 persen.

Pabrik tersebut akan menjadi salah satu kilang dengan teknologi tercanggih di dunia. Kilang Tuban didesain berkapasitas pengolahan utama hingga 15 mmta (juta ton per tahun). Sebagian di antaranya akan mengolah petrokimia seperti produk etilen 1 mmta dan hidrokarbon aromatik 1,3 mmta.

Menurut dia, proyek tersebut akan mendapat dukungan penuh pemerintah Indonesia untuk penyediaan infrastruktur maupun kebutuhan lain. Kilang yang memproduksi minyak 300 ribu barel per hari ini juga akan menjadi penopang bisnis Pertamina ke depan. Sebab, karena tambahan Kilang Tuban dan beberapa kilang lain, Indonesia diprediksi tidak perlu mengimpor BBM setelah semua proyek kilang selesai.

“Lebih dari itu, Pertamina juga bisa memasok produk hasil olahannya yang berlebih ke pasar komersial,” ungkapnya.

Saat ini kapasitas pengolahan petrokimia Pertamina hanya 700 kiloton per annum (ktpa). Namun, kapasitasnya akan bertambah secara bertahap seiring hadirnya dua kilang baru. Yakni, Tuban dan Bontang. Juga empat kilang existing hasil revitalisasi yalmo kilang Balikpapan, Cilacap, Balongan, dan Dumai. Jika sudah rampung 2026, produksi petrokimia Pertamina ditargetkan bisa mencapai 6.600 ktpa.(japs/rel)