D'Finance D'News National

Pengusaha Keluhkan UMP Yang Tinggi Tapi Tak Sebanding Dengan Kinerja

Kenaikan UMP 8,51 % mau tidak mau harus diikuti oleh pengusaha. Hal ini dikatakan Pengusaha Ivanry Matu, Minggu (03/11/2019).

Tetapi menurutnya, di sisi lain kualitas pekerja masih sangat di bawah standar.

Apalagi di sektor jasa layanan, masih banyak keluhan, belum terampil, banyak sekali minta izin dengan alasan yang tidak jelas.

“Entah ilmu apa lagi yang mau dipakai untuk training ke karyawan, karena mungkin karakter dan kultur yang sudah mengakar itu agak sulit untuk diubah. Perlu strategi ekstra, karena kadang juga sikap baik pemilik usaha terhadap karyawan saling dianggap lain karena itu muncul istilah ‘kasih hati mau jantung’,” kata dia.

Kenaikan UMP setiap tahun pasti akan naik, itu sudah perintah UU, dan ini menjadi semacam beban warisan karena akan naik terus, padahal bagi usaha yang bergerak di sektor layanan dan padat karya akan semakin sulit.

Contoh seperti rumah makan di era saat ini dengan layanan pesan online, kini muncul dapur-dapur yang tidak terlihat (ghost kitchen), mereka jual online buka bisnis dari rumah, ada yang hanya pekerjakan 2-3 orang, tapi omsetnya cukup besar.

“Hebatnya lagi mereka usaha rumahan yang tidak perlu sewa tempat, dan lain-lain. Hal ini tentu menjadikan biaya operasional kecil dan pasti harga jual juga murah, dalam hal bayar pajak juga mereka belum terpantau,” ujarnya.

Dibandingkan dengan rumah makan offline dengan biaya Operasional yang sangat besar, perijinan dan biaya investasi, terkadang tidak lagi menutupi, artinya secara hitung-hitungan bisnis tidak layak lagi.

Sementara UMP terus naik, nah kondisi Yang terus menerus seperti itu dibutuhkan strategi mumpuni dan pastinya ada penambahan biaya dan ongkos strategi promosi agar usaha tidak tutup.(japs/trc)

Japs
Conception

Tinggalkan Balasan