[PUISI] Pada Temu Terakhir Kalinya

Tiada lagi kekata
Jika jauh dari kata jumpa
Rindu itu kian kentara
Dari dua pasang netra yang tercela

Hidup yang mati
Akal sehat hilang kendali
Ini bukan tentang aku dan kamu
Namun histori kepingan yang terperi
Masih di sini, di sanubari, lantas kapan kamu kembali?

Pada temu kita yang terakhir kalinya
Di antara petang dan senja
Kita sama-sama mengentakan dua pasang kaki yang terselip jeda
Menambah jarak untuk menyiratkan amarah

Dengan angkuhnya hujan datang
Turun mendera sembari tertawa terbahak
Sementara aku terjerembap
Lalu angin memelukku dengan dingin

Pada akhir kalimat kamu bersumpah serapah
Ucap dan ragamu memecah gelap
Sementara dalam terang aku meluruskan
Kamu enggan menghiraukan
Lantas berteriak dengan lantang dan kencang

“Dan bila petang datang tuk merajai
Dengan dinginnya malam terkutuk sunyi
Dan aku masih tetap berdiri di bumi ini
Aku akan tetap memilih jalanku sendiri.”
Ucapmu lalu pergi, tuk selamanya, tanpa kembali