Pasca Tsunami, Ini 10 Ikon Baru di Kota Banda Aceh untuk Melawan Lupa

Banda Aceh, IDN Times – Banda Aceh menjadi daerah terparah di Indonesia yang terkena gempa dan tsunami pada 26 Desember 2004 silam. Ratusan ribu orang menjadi korban.

Begitu juga berbagai infrastruktur, hampir tidak tersisa. Semua habis diguncang gempa dan disapu ombak yang naik hingga beberapa kilometer dari ke daratan Aceh.

Lima belas tahun kini kejadian itu berlalu. Aceh, kini telah pulih dan sudah banyak melakukan perubahan. Namun, untuk ‘melawan lupa’ peristiwa gempa dan tsunami yang pernah meluluhlantakan daerah ini, dibangunlah sejumlah monumen, museum, serta tempat-tempat edukasi kebencanaan.

Tugu dibangun untuk mengenang para korban yang meninggal saat itu. Museum untuk menyimpan benda-benda yang dianggap menjadi bukti sejarah peristiwa tersebut. Sementara tempat-tempat edukasi kebencanaan, dijadikan mitigasi bencana atau untuk upaya yang dilakukan untuk mengurangi dan menghapus kerugian dan korban.

Berikut ini 10 ikon di Kota Banda Aceh pasca gempa dan tsunami pada 26 Desember 2004 silam:

1. Tugu peringatan tsunami di Blang Padang

Pasca Tsunami, Ini 10 Ikon Baru di Kota Banda Aceh untuk Melawan Lupa

Tugu berbentuk segi empat dan menjulang dengan ketinggian yang diperkirakan hingga tujuh meter ini terletak di lapangan Blang Padang. Tugu ini dibangun oleh Yayasan Harapan Bangsa Nusantara Jakarta-Indonesia dengan didanai Purple Lotus Temple, San Fransisco-USA dan Mother Samantha Foundation, San Fransisco-USA. Diresmikan oleh Penglima Kodam Iskandar Muda, Mayor Jendral Supiadi AS, pada 1 Maret 2008.

Tugu ini untuk mengenang hari bersejarah dalam hidup manusia, yaitu bencana alam gempa dan tsunami yang terjadi di pesisir pantai Asia Pasifik, pada tanggal 26 Desember 2004, khususnya di Aceh, di mana hari itu merenggut ratusan ribu korban jiwa.

2. Tugu ketinggian air tsunami

Pasca Tsunami, Ini 10 Ikon Baru di Kota Banda Aceh untuk Melawan Lupa

Tugu ini menjadi bukti mengenai ketinggian air tsunami yang melanda yang terkena dampanya. Misalnya salah satu tugu yang IDN Times jumpai ini. Berdiri kokoh di halaman sekolah SMA Negeri 1 Banda Aceh, tepatnya di kawasan Gampong Punge Jurong, Kecamatan Meuraxa, Kota Banda Aceh, Aceh. Selain di tempat tersebut, tugu ini juga tersebar di beberapa daerah lainnya.

“Tugu nomor 47. Tsunami, 26 Desember 2004, tinggi genangan air 3,40 meter (les biru). Jarak dari pantai 3,20 km. Waktu tiba gelombang sekitar 8.35 WIB (35 menit setelah terjadi gempa, magnitude=8,9 SR),” tertulis di prasasti tugu tersebut.

3. Museum Tsunami Aceh

Pasca Tsunami, Ini 10 Ikon Baru di Kota Banda Aceh untuk Melawan Lupa

Museum ini menyimpan sejumlah barang-barang yang merupakan peninggalan, foto keadaan, serta edukasi ketika gempa dan tsunami terjadi di Aceh. Tak hanya itu, di Museum Tsunami Aceh juga menampilkan sejumlah gambaran bagaimana peristiwa besar itu dialami oleh para korban. Seakan-akan dibawa kembali ke masa-masa terjadinya tsunami 2004.

Gedung megah ini terletak di kawasan Gampong Sukaramai, Kecamatan Baiturrahman atau berada di tengah-tengah Kota Banda Aceh. Diresmikan tahun 2009, museum ini dirancang oleh Ridwan Kamil, yang saat ini menjabat sebagai Gubernur Jawa Barat.

4. Kapal nelayan di atas rumah Lampulo

Pasca Tsunami, Ini 10 Ikon Baru di Kota Banda Aceh untuk Melawan Lupa

Monumen kapal nelayan di atas rumah ini berada di kawasan pemukiman warga di Gampong Lampulo, Kecamatan Kuta Alam. Salah satu desa terparah yang mengalami kerusakan saat tsunami terjadi, sebab terletak di pinggir pantai atau kuala. Kapal sepanjang 18 meter ini berdiri di sebuah bangunan rumah milik warga bernama Abasiah.

5. Kapal PLTD Apung I yang kini jadi museum

Pasca Tsunami, Ini 10 Ikon Baru di Kota Banda Aceh untuk Melawan Lupa

Kapal ini menjadi salah satu situs yang tersisa dari peristiwa 15 tahun silam tersebut. Terhempas lebih dari 3 kilometer dari posisinya di tengah laut, kapal dengan panjang 63 meter dengan berat 2.600 ton tersebut kini berdiri kokoh di tengah-tengah rumah warga di Gampong Punge Blang Cut, Kecamatan Jaya Baru.

Kini, bekas kapal Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) Apung itu telah dijadikan tempat wisata berupa museum. Di dalam kapal serta di seputarannya, kini dilengkapi informasi dan foto mengenai Tsunami Aceh 2004.

6. Kuburan massal korban tsunami di Ulee Lheue

Pasca Tsunami, Ini 10 Ikon Baru di Kota Banda Aceh untuk Melawan Lupa

Kuburan massal yang terletak di Jalan Iskandar Muda, Ulee Lheue, Kecamatan Meuraxa ini, salah satu kuburan korban tsunami terbesar di Aceh. Ada 14.800 jenazah korban tsunami yang dikubur di lahan seluas sekitar 15.800 meter persegi bekas Rumah Sakit Meuraxa milik Pemerintah Kota Banda Aceh.

Di pintu gerbang kuburan missal, terdapat tulisan yang diambil dari salah satu surat dalam Al-Quran, yakni “Tiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan” (Al-Anbiya, 35). Selain itu, di sepanjang pagar kuburan dikelilingi 99 Asmaul Husna.

7. Monumen Aceh Thanks to the World

Pasca Tsunami, Ini 10 Ikon Baru di Kota Banda Aceh untuk Melawan Lupa

Bencana gempa dan tsunami yang telah memporak-porandakan Aceh 26 Desember 2004 silam, telah mengetuk semua hati manusia. Sehingga, bantuan bukan hanya datang dari Pemerintah Indonesia saja, namun juga beberapa negara yang ada di dunia.

Hal itu dibuktikan dengan adanya Monumen Aceh Thanks to the World yang ada di lapangan Blang Padang, Kota Banda Aceh. Monumen berbentuk lima gelombang itu, diberikan warna biru dan putih agar tampak seperti ombak.

Tak hanya itu, ada monumen kecil lainnya berbentuk kepala kapal dengan tulisan ‘terima kasih’ sesuai dengan bahasa dari sebuah negara. Monumen ini tersebar mengelilingi lapangan Blang Padang. Setidaknya ada 55 monumen kecil tersebut sesuai dengan jumlah negara yang membantu.

8. Perumahan bantuan untuk korban tsunami

Pasca Tsunami, Ini 10 Ikon Baru di Kota Banda Aceh untuk Melawan Lupa

Bantuan yang datang ke Aceh pasca gempa dan tsunami, tidak hanya berupa makanan serta pangan lainnya. Ada juga bantuan diberikan berupa bangunan rumah. Salah satunya bantuan rumah yang ada  di Perkampungan Bulan Sabit Merah Turki, Bitai-Emperoom, Kecamatan Jaya Baru ini. Rumah di kawasan kedua kampung itu begitu identik dengan negara yang membantunya, yaitu berwarna merah serta memiliki lambang bulan dan bintang.

Di Banda Aceh, bantuan perumahan tidak hanya dari Turki saja. Ada beberapa negara atau lembaga kemanusiaan lain. Bentuknya pun sesuai dengan para donator, misalnya Kerajaan Arab Saudi yang identik dengan hijau tua dan banyak lagi.

9. Gedung evakuasi tsunami atau escape building

Pasca Tsunami, Ini 10 Ikon Baru di Kota Banda Aceh untuk Melawan Lupa

Gedung evakuasi bencana atau escape building di bangun pasca gempa dan tsunami di Aceh. Di Banda Aceh, gedung ini hany ada empat unit dan tersebar di sejumlah daerah yang dianggap rawan akan bencana. Misalnya seperti di Gampong Lambung, Deah Glumpang dan Deah Teungoh. Sementara satu lagi berada di Gampong Pie, yang difungsikan lebih, sebagai kantor Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC).

Bangunan yang memiliki empat lantai ini tak ada sekat-sekat ruang dan hanya hamparan ruang luas di setiap lantainya. Gedung ini digunakan untuk penyelamatan dan evakuasi bagi masyarakat manakala gempa kuat melanda dan diikuti ancaman gelombang tsunami.

Selama ini, gedung ini sering dijadikan tempat pelatihan atau simulasi jika terjadi gempa dan tsunami.

10. Daratan Ulee Lheue yang hilang

Pasca Tsunami, Ini 10 Ikon Baru di Kota Banda Aceh untuk Melawan Lupa

Gelombang tinggi yang meluluhlantakan daratan Aceh tidak hanya merusak bangunan yang ada di darat, namun juga menghilangkan sebagian daratan di bibir pantai. Di antaranya kawasan yang paling parah terkena, yakni Gampong Ulee Lheue, Kecamatan Meuraxa.

Hampir seluruh wilayah desa ini habis di telan ke laut. Kini kawasan itu telah dijadikan sebagai tempat wisata.