Prajurit ini Donasikan Seluruh Sepatunya untuk Warga Uganda

Sersan Ian Payne mungkin tak menyangka bahwa ia akan menjadi dermawan saat memindahkan keluarganya dari Inggris ke Uganda. Selama delapan bulan terakhir, Ian bertugas di Komisi Tinggi Uganda di ibu kota Kampala.

Ia
membuka sebuah kelompok lari di klub tinju lokal, di mana ia
menyaksikan sendiri bagaimana buruknya kondisi sepatu para pelari.

“Saya menunduk dan melihat kondisi sepatu mereka sudah rusak,” kata Ian, yang berasal dari London.

“Saya
merasa bahwa saya dan keluarga saya beruntung, tapi sebenarnya saya
sangat sedih karena saya melihat kemiskinan mereka dan saya tidak
menyukainya.

“Tapi anak-anak tersebut tetap tersenyum dan
melanjutkan hidup mereka, ini membuat saya bersahaja, jadi saya ingin
membantu mereka.”

Ian lantas ingat sepatu-sepatunya yang sudah tidak ia pakai. Dengan cepat Ian memutuskan untuk menyumbangkan sepatunya.

Ia lalu menghubungi teman-teman dan keluarganya untuk meminta mereka menyumbangkan sepatu-sepatu lamanya.

“Saya
langsung memberikan sepatu-sepatu lama tersebut ke anak-anak, namun
ternyata banyak sepatu yang tersisa,” kata Ian, yang merupakan bagian
dari Korps Ajudan Jenderal di Angkatan Darat Inggris.

Saat ia
bepergian keluar Kampala untuk urusan pekerjaan, Ian mengatakan bahwa ia
telah melihat banyak orang berjalan tanpa mengenakan sepatu.

“Kondisi
di barat Uganda sangat buruk,” katanya. “Saya menyimpan sepatu-sepatu
di bagasi saya, jadi kalau saya melihat orang tidak memakai sepatu, saya
bisa berhenti dan menyumbangkan sepasang sepatu.”

Ian menemukan tujuan lain untuk sepatu-sepatunya lantaran jumlah sepatu bekas yang diterimanya terus berdatangan. Ia mengunjungi panti asuhan setempat, di mana ia menyumbangkan puluhan sepatu untuk anak yatim piatu.

“Hasilnya
langsung terlihat. Muka mereka sumringah, mereka sangat senang menerima
benda yang sebenarnya sangat sederhana bagi kita.”

“Banyak yang berlutut sambil bilang ‘Tuhan memberkati kamu’, lalu mendoakan saya.”

Saat Ian menulis di media sosial untuk meminta lebih banyak sepatu bekas, respon yang didapatnya sangat banyak.

Ada yang menghubunginya untuk mengatakan bahwa mereka telah menciptakan stasiun pengumpulan sepatu di daerah mereka. Kolega-kolega Ian di Angkatan Darat juga turut menyumbang.

“Banyak
orang yang mengirim sepatu yang sangat jarang dipakai dan kondisinya
masih bagus. Ada juga yang mengirim sepatu tua tapi ini masih berguna
ketimbang berjalan telanjang kaki.”

Sejauh ini, sebagian besar sumbangan yang diterima Ian berasal dari Inggris, tapi ia juga menerima sumbangan dari negara lain – dari Cyprus sampai Amerika Serikat. Ketika Ian mengunggah permintaan untuk berbagi sepatu di media sosial, responsnya sangat besar.

Beberapa orang telah menghubunginya dan mengatakan bahwa mereka telah membuat pos pengumpul sepatu di daerah mereka.Rekan-rekan Ian juga mengiriminya sumbangan sepatu.

“Banyak orang mengirim sepatu yang sudah lama tak terpakai dan masih dalam kondisi bagus. Yang lain memang sepatu tua, tapi lebih baik daripada tidak pakai sepatu sama sekali.”

Dia mengatakan orang-orang juga mau mengirimkan baju kepadanya namun hanya dia yang mengelola semua donasi. “Saya bekerja sendirian, tapi baru-baru ini saya minta putri saya membantu.”

Ian
ingin pergi ke banyak sekolah dan panti asuhan, khususnya di daerah
pedalaman yang memerlukan sepatu, khususnya untuk anak-anak.

“Saya benar-benar tidak bisa cukup menekankan betapa bersyukurnya mereka menerima sepasang sepatu,” katanya.

“Namun saya masih merasa sedih karena saya baru menyentuh permukaan dan banyak lagi yang bisa dilakukan.”

“Hal
ini menjadi besar di media sosial- responnya luar biasa,” kata Ian.
“Membalas pesan yang saya terima kini terasa seperti pekerjaan penuh
waktu.

“Awalnya saya hanya menerima sepatu lari tapi kini saya
menerima berbagai jenis sepatu – meskipun saya tidak menerima sepatu hak
tinggi!”

Ia mengaku banyak juga yang ingin mengirim pakaian, tapi sejauh ini ia hanya seorang diri dalam mengurusi donasi tersebut. “Saya mengurus semuanya sendiri, tapi belakangan saya sukses membujuk anak-anak perempuan saya untuk membantu saya.”

Ian
ingin menyumbangkan sepatu-sepatunya ke lebih banyak sekolah dan panti
asuhan, terutama di area pedesaan, di mana sepatu sangat dibutuhkan,
terutama oleh anak-anak.

“Saya tidak berhenti mengatakan bahwa
mereka bersyukur menerima sepasang sepatu,” katanya. “Namun saya masih
sedih karena saya tahu saya baru menyumbangkan sedikit sepatu bagi
mereka yang membutuhkan, masih banyak yang membutuhkan.”