Drainase dan Banjir

Banjir kembali lagi terjadi awal tahun 2020 ini dengan wilayah terdampak lebih luas dari tahun-tahun sebelumnya. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat intensitas hujan sedang hingga tinggi yang terjadi di wilayah Bogor tanggal 31 Desember hingga 1 Januari 2020 menyebabkan tinggi muka pintu air Katulampa, Bogor, lebih dari 110 cm pada pukul 22.00 WIB Selasa (31/12/2019).

Hal tersebut menyembabkan luapan air sungai Ciliwung sehingga mengakibatkan banjir di beberapa titik di wilayah Jakarta dan sekitarnya di bagian hilir.  Laporan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per tanggal 2 Januari 2020 menyebutkan, sebaran wilayah terdampak banjir di megapolitan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek) meliputi 268 titik.

Terbanyak di Bekasi  mencakup kabupaten dan kota Bekasi, ada 90 titik dan Jakarta Timur 65 titik. Sementara di kota Tangerang dan Tangerang Selatan tersebar di sembilan titik. Ketinggian muka air hingga dua meter di antaranya terjadi di Cipinang Melayu (Jakarta Timur), Komplek IKPN Bintaro (Jakarta Selatan), dan sejumlah perumahan di Jatikramat, Pengasingan, Margahayu, dan Duren Jaya di kota Bekasi. Berdasarkan prakiraan BMKG, hujan masih akan mengguyur wilayah DKI Jakarta pada pagi dan sore hingga satu hari ke depan.

Sejumlah perumahan di Kemang (Jakarta Selatan), Pulomas (Jakarta Timur), Jatiwaringin (Bekasi), Ciledug (Tangerang) menjadi langganan banjir tahunan. Kini, beberapa perumahan baru seperti Pesona Serpong dan Laverde (Tangerang Selatan), Serpong Park (Tangerang), serta Villa Mutiara Gading dan Summarecon Bekasi di Bekasi, juga mengalami banjir yang tadinya tidak pernah.

Mengutip pernyataan Pengamat perkotaan Yayat Supriyatna dalam wawancara dengan sebuah stasiun TV di Jakarta, masalah utama banjir terletak pada daya tampung drainase. Sejumlah pembangunan baru meliputi infrastruktur, gedung, dan perumahan tidak dibarengi dengan pembaruan pada drainase. “Saluran airnya tetap mengandalkan yang lama, mungkin drainase yang dibuat sejak zaman Belanda,” kata Yayat, Kamis (2/1/2020).

Tidak hanya drainase. Pengalihfungsian lahan serapan air menjadi gedung atau perumahan juga berdampak pada risiko banjir ketika curah hujan tinggi. Sebuah studi kasus pernah dilakukan pada perumahan Taman Cipulir Estate di kawasan Ciledug, Kota Tangerang, yang hampir tidak pernah absen kebanjiran. Sejak 2013 studi dibuat hingga sekarang, perumahan tersebut terdampak banjir cukup parah.

Perumahan yang dibangun pada 1993 itu awalnya berupa daerah rawa-rawa yang diurug. Menurut laporan survei yang ditulis sejumlah mahasiswa Institut Teknologi Bandung dalam laman www.academia.edu itu, permasalahan banjir disebabkan oleh drainase yang tidak lancar. Upaya pemeliharaan drainase utama yang kurang sehingga menyebabkan endapan tinggi dan vegetasi tumbuh di sekitarnya.

Drainase yang semakin dangkal diperparah lagi dengan ditutupnya akses untuk pemeliharaan saluran dengan pembangunan daerah bantaran. Karena seringnya banjir terjadi, survei menemukan banyak saluran-saluran yang ditutup oleh warga dengan alasan agar rumahnya tidak terbanjiri. Tindakan penutupan saluran malah tidak mengurangi dampak banjir, tetapi semakin menyebabkan drainase tidak berjalan.

Dalam laporan tersebut disebutkan beberapa solusi pencegahan banjir yang mungkin dilakukan. Antara lain mengembalikan ruang bebas (bantaran) drainase utama komplek perumahan sebagai akses untuk memelihara drainase dari kedangkalan. Pembuatan sumur resapan pada titik terendah dari komplek tersebut yang kini telah ditutup pula dengan pembangunan rumah baru. Laporan survei tersebut dapat memberikan gambaran bahwa, pemeliharaan drainase dan pertimbangan lingkungan terhadap pengembangan kawasan tidak bisa dilupakan saat pembangunan sudah selesai.