Rentan Dilanda Banjir, Begini Cara Belanda Hadapi Kondisi Geografisnya

Belanda sama seperti Jakarta, adalah kawasan yang rawan banjir. Secara geografis, negara kincir angin ini merupakan daratan rendah dengan 2/3 bagian wilayahnya berada di bawah permukaan laut. Hal ini menjadikan banjir sebagai ancaman utama saat datangnya musim penghujan atau air pasang. Salah satu banjir terburuk yang pernah dialami Belanda terjadi pada tahun 1953. Bencana tersebut menewaskan 1835 orang, 70 ribu orang kehilangan tempat tinggal dan total kerugian mencapai 1 miliar Gulden.

Sadar akan kondisi geografisnya yang tidak menguntungkan, program pengendalian banjir menjadi persoalan yang sangat serius bagi pemerintah Belanda. Di antaranya, mereka membuat sistem tanggul atau saluran pengairan yang menggunakan teknologi canggih. Menariknya lagi, Belanda juga dapat memanfaatkan luapan air yang berlebih untuk kesejahteraan mereka. Yuk, simak selengkapnya di bawah ini!

1. Palang air dipasang di tepi laut dan muara sungai untuk mecegah banjir saat air pasang

Rentan Dilanda Banjir, Begini Cara Belanda Hadapi Kondisi Geografisnya

Dilansir dari Euro News, salah satu inovasi yang dilakukan Belanda adalah dengan memasang palang air di sepanjang tepi laut atau muara sungai demi mencegah meluapnya air pasang. Salah satu palang air yang terbesar adalah Maeslantkering, terbentang di sebuah kanal yang menghubungkan sungai Rhine dan laut utara di bagian Selatan Belanda. Menyerupai gerbang besar yang dapat membuka tutup, benda setinggi 22 meter ini terbuat dari besi tebal, cukup kuat dan rapat untuk menghalangi masuknya air yang berlebih.

Cara kerja Maeslantkering adalah, ketika permukaan air naik mencapai lebih dari 3 meter, gerbang tersebut akan secara otomatis menutup. Dengan begitu, palang air ini dapat melindungi wilayah Belanda yang berada di bawah permukaan laut dari kebanjiran.

2. Tanggul-tanggul dikendalikan dengan teknologi canggih

Rentan Dilanda Banjir, Begini Cara Belanda Hadapi Kondisi Geografisnya

Selain palang air, Belanda juga membuat banyak tanggul untuk mencegah terjadinya luapan air laut. Tanggul-tanggul ini juga telah didukung dengan sistem teknologi yang canggih, sehingga dapat mendeteksi luapan air sejak dini.

3. Adanya sistem polder

Rentan Dilanda Banjir, Begini Cara Belanda Hadapi Kondisi Geografisnya

Sistem polder telah sejak lama digunakan oleh Belanda guna mencegah banjir. Polder sendiri merupakan area dengan dataran yang rendah yang dikelilingi oleh tanggul. Polder menggunakan sistem penataan air tertutup, yang berarti air hanya masuk dan dialirkan lewat saluran yang telah disediakan. 

Dengan adanya sistem polder, pemukiman warga tidak akan tergenangi air saat musim penghujan atau air pasang. Air tersebut akan disalurkan ke polder, untuk nantinya di pompa ke sungai yang langsung dialirkan ke laut. 

4. Membangun rooftop garden dengan memanfaatkan air hujan

Rentan Dilanda Banjir, Begini Cara Belanda Hadapi Kondisi Geografisnya

Sebuah proyek bernama Dakkaker menciptakan inovasi dengan memanfaatkan penyimpanan air hujan, yaitu rooftop garden atau kebun atap, khususnya di bangunan-bangunan seperti perkantoran. Selain dapat memberikan kesejukan bagi penghuninya, kebun ini bisa menjadi area hijau sekaligus tempat yang unik untuk menanam aneka buah dan sayuran.

Perkebunan yang digagas oleh proyek Dakkaker ini juga dimonitori dengan teknologi ramalan cuaca. Tujuannya agar aliran air hujan di dalam kebun dapat terkontrol dengan baik.

5. Peternakan apung adalah inovasi lainnya dengan memanfaatkan saluran air terbuka

Rentan Dilanda Banjir, Begini Cara Belanda Hadapi Kondisi Geografisnya

Orang Belanda sepertinya tak kehabisan ide untuk menangkap peluang dari kondisi lingkungan mereka. Seperti proyek peternakan apung di Rotterdam ini, misalnya.

Dikutip dari Dezeen, proyek ini diciptakan untuk menghadapi tantangan peternakan di masa depan. Dengan semakin meningkatnya permukaan air laut akibat perubahan iklim, lahan untuk berternak akan semakin berkurang lantaran banjir. Selain itu, proyek ini juga diharapkan bisa menjadi cara baru untuk mengenalkan kembali peternakan di perkotaan, tentunya dengan meminimalisir dampak pada sumber daya dan lingkungan. 

Dengan total 35 ekor sapi yang dipelihara, peternakan ini benar-benar memanfaatkan sumber daya yang ada. Mulai dari makanan, hewan-hewan ini diberi makan rumput dan sisa makanan dari lapangan dan restoran lokal. Peternakan ini juga memanfaatkan olahan air hujan sebagai minuman, serta menggunakan listrik dari panel tenaga surya terapung di sebelahnya. Dari hasil peternakan ini pula, beberapa ratus liter susu diproduksi per harinya dan dijual kepada restoran lokal, pelanggan, hingga distributor makanan.

Itulah beberapa cara yang dilakukan Belanda untuk menghadapi kondisi geografisnya yang rentan terhadap banjir. Dalam hal ini, kita bisa melihat bahwa Belanda bukan hanya mencari solusi dari masalahnya, tapi juga dapat mencari peluang dari masalah tersebut. Semoga hal ini bisa menjadi inspirasi bagi Indonesia dan negara lainnya yang mempunyai masalah serupa.