Badan Amal di China Dituduh Menahan Uang Sumbangan untuk Perempuan yang Kelaparan

Masyarakat China marah setelah terungkap bahwa hanya sebagian kecil dari satu juta yuan (Rp1,9 miliar) yang disumbangkan untuk seorang mahasiswa yang kekurangan gizi sampai kepadanya sebelum ia meninggal dunia.

Orang-orang di seluruh negeri menyumbangkan uang untuk membantu Wu Huayan, yang kisah tragisnya diketahui masyarakat China setelah dibawa ke rumah sakit dalam keadaan sulit bernafas pada musim gugur lalu.

Perempuan muda itu, yang berat badannya hanya 20kg lebih sedikit, telah bertahan hidup hanya dengan 2 yuan (sekitar Rp4000) sehari selama lima tahun.

Ia kemudian menjelaskan bagaimana ia menyaksikan ayah dan neneknya meninggal karena tidak punya cukup uang untuk mendapatkan perawatan medis. Ia bertekad untuk tidak membiarkan hal yang sama terjadi pada dirinya, dengan meminta bantuan melalui media sebagai jalan terakhir.

Dan tampaknya ia berhasil: donasi membanjir masuk. Tapi itu tidak cukup untuk menyelamatkan Wu, yang meninggal dunia pada hari Senin (13/01) di usia 24 tahun.

Mereka yang telah menyokongnya sangat sedih, tapi ada hal yang lebih buruk dari itu. Uang yang mereka sumbangkan – atau setidaknya sebagian besar dari itu – tidak pernah sampai ke Wu Huayan. Catatan resmi tampaknya menunjukkan hanya 20.000 yuan (Rp 39,6 juta) yang dibayarkan untuk tagihan rumah sakitnya.

Ini meninggalkan banyak pertanyaan: bagaimana mungkin ikhtiar mereka gagal membantu perempuan muda ini — dan siapa yang harus disalahkan?

Foto-foto pertama Wu Huayan – tubuhnya tampak kurus dengan tinggi badan 135cm – dirilis pada bulan Oktober. Ia dan adik laki-lakinya, yang diketahui mengidap gangguan jiwa, bergantung pada seorang paman dan bibi untuk penghidupan; tapi mereka hanya bisa memberikan 300 yuan (sekitar Rp594.000) setiap bulan. Setelah membayar ongkos berobat adiknya, hanya tersisa dua yuan sehari untuk makan.

Segera, orang-orang mulai menyumbang. Donasi itu dikumpulkan oleh Charity 9958, sebuah proyek di bawah Yayasan Bantuan Amal China untuk Anak-anak (CCAFC), melalui dua platform pendanaan yang berbeda. Dana yang terkumpul dimaksudkan untuk membantu membayar operasi jantung.

Tetapi operasi itu tidak pernah terjadi. Menurut sejumlah laporan, Wu tidak pernah mencapai berat badan yang cukup untuk menjalani operasi. Menurut media resmi, beratnya kurang dari 30kg saat ia meninggal.

Beberapa hari setelah kematiannya, muncul sebuah skandal. Media pemerintah bernama The Cover menuduh 9958 melakukan “penipuan”.

Zheng Hehong, seorang aktivis terkemuka dan mantan staf di 9958, buka suara dan menuduh badan amal itu sengaja mencari orang-orang yang sakit atau dalam keadaan rentan, dan kemudian menahan dana sumbangan sebagai bagian dari taktik untuk mendapatkan uang sebanyak mungkin.

“Mereka menunggu sampai pasien meninggal dunia sehingga mereka bisa mengambil duitnya,” katanya kepada Ifeng.com dari Phoenix New Media. “Pendapatan ini, secara hukum, dapat diberikan sebagai bonus staf alih-alih bantuan amal.”

Namun badan amal itu menanggapi dengan mengatakan uang tersebut mereka tahan atas permintaan keluarga. Mereka mengatakan sumbangan belum dibayarkan kepada Wu karena ia belum memenuhi kriteria yang diperlukan untuk menjalani operasi — dan mereka berencana untuk menyalurkan dana itu setelahnya.

Namun, seorang kenalan Wu mengatakan kepada The Cover bahwa perempuan itu bahkan tidak mengetahui tentang uang sumbangan sebesar 400.000 yuan (sekitar Rp792 juta).

Kemudian, perkaranya semakin rumit: 9958 mengatakan mereka berhenti menggalang sumbangan untuk Wu setelah pejabat pemerintah setempat mengatakan bahwa mereka akan “mengurus” mahasiswa tahun ketiga itu dan keluarganya.

Pemerintah kota menyangkalnya, mengatakan mereka tidak pernah berbicara dengan 9958.

Tetapi apakah semuanya sesederhana itu? Dalam beberapa tahun terakhir, telah terjadi serangkaian skandal besar yang melibatkan badan amal China, kata wartawan David Paulk dalam sebuah utas Twitter.

Di antara rangkaian skandal tersebut adalah badan amal yang didirikan untuk membantu anak perempuan tapi memberikan uangnya kepada anak laki-laki, dan yang menggunakan foto duplikat untuk mendorong orang-orang memberi sumbangan kepada anak-anak miskin, sang editor media online Sixth Tone menjelaskan dalam utas Twitter.

Namun sebaliknya, CCAFC – badan induk dari 9958 – dinobatkan sebagai badan amal paling transparan di China pada tahun 2019 “mencapai skor sempurna 100”.

Bagaimanapun, Kerry Allen dari BBC Monitoring mengatakan bahwa media resmi Cina mengakui bahwa terjadi “kekacauan dan kebingungan” dalam industri amal China.

Media pemerintah China Daily mengatakan bahwa ada “terlalu banyak otoritas dan kewajiban yang tumpang tindih”, dan menyarankan peraturan yang lebih baik, seraya mengatakan bahwa penipuan bermodus amal telah menjadi marak di dunia maya.

Publisitas seputar kisah-kisah seperti Wu juga membuat organisasi-organisasi amal enggan menangani kasus-kasus serupa, khawatir disalahkan karena tidak cukup berusaha.

South China Morning Post menekankan bahwa Wang Fuman, anak miskin yang menyentuh hati masyarakat China setelah foto dirinya dengan rambut beku membeku menjadi viral, mendapat akhir yang bahagia dengan ditawari untuk bersekolah di sebuah sekolah swasta. Namun tawaran tersebut ditarik kembali oleh pihak sekolah karena mereka tidak mampu menangani “pengawasan ekstra yang intens dari pihak berwenang dan tekanan dari media”.

Media pemerintah China juga mewaspadai kemungkinan keluarga yang mengeksploitasi anak-anak mereka untuk ketenaran dan donasi di dunia maya. Ayah Wang Fuman mengatakan kepada Inkstone News bahwa dana yang disumbangkan untuk putranya ditahan setelah keluarga itu dituduh “rakus”, dan disalurkan kepada “anak es” lainnya.

“Keluarga kami hanya menerima sejumlah kecil uang,” katanya kepada situs tersebut.

Tapi laporan yang bertentangan dengan “akhir bahagia” dalam kasus-kasus seperti ini tidak pernah mencapai China daratan, tempat media diatur dengan ketat.

Akibatnya, kematian Wu membuat marah warganet di negara itu, dan menimbulkan kecurigaan bahwa pemerintah daerah menilap dana amal untuk diri mereka sendiri. Banyak yang menyinggung skandal para mantan pejabat di wilayah miskin yang mampu menjalani kehidupan mewah.

Pemerintah China kemungkinan akan mengalihkan kesalahan dari para pejabat, karena mereka telah bekerja keras untuk membangun citra yang positif dan menunjukkan keberhasilan dalam pengentasan kemiskinan.

Partai Komunis China berambisi untuk memberantas kemiskinan parah pada akhir tahun 2020, mengelu-elukan kesuksesan di tempat-tempat seperti provinsi Jiangsu — yang mengklaim hanya ada 17 orang di wilayahnya yang hidup dalam kemiskinan.

Maka dari itu, cerita-cerita seperti Wu dan adik laki-lakinya bukanlah cerita yang ingin mereka lihat sebagai berita utama.