Sejumlah Mahasiswa Asing di Wuhan Dilarang Keluar Asrama

Wuhan,-Setidaknya sepuluh kota di China, termasuk Wuhan, ditutup dalam upaya pengendalian penyebaran virus corona. Lantas seperti apa kehidupan di kota yang menjadi pusat penyebaran pertama virus tersebut?

Jumlah kematian di China akibat virus ini terus meningkat dalam beberapa hari terakhir. Hingga berita ini diturunkan, setidaknya 41 orang di negara itu dinyatakan meninggal akibat virus corona.

Pada saat yang sama, pemerintah China menetapkan larangan perjalanan masuk dan keluar Provinsi Hubei.

Otoritas setempat menyatakan bahwa virus itu pertama kali muncul di pasar ikan di kota Wuhan, ibu kota Provinsi Hubei. Pasar itu diduga melakukan jual-beli ilegal binatang liar.

Belakangan dikenal sebagai 2019-nCoV, virus ini sebelumnya tidak pernah teridentifikasi di tubuh manusia.

Pekan lalu kondisi kota stabil, tapi segala sesuatunya sudah berubah secara drastis. Keadaan ini membuat saya sangat cemas. Saya tidak pernah menghadapi situasi seperti ini sebelumnya.

Namun pihak universitas dan pemerintah setempat sangat baik. Mereka menjaga kami.

Otoritas kampus memeriksa suhu tubuh mahasiswa setiap hari dan membagikan masker wajah gratis. Mereka juga mempunyai fasilitas rumah sakit dan ambulans sendiri.

Kami disarankan mencuci tangan setiap jam, tidak makan di luar, dan mengenakan masker setiap keluar ruangan.

Kami semua bertahan di kamar dan hanya berkunjung ke kamar kawan-kawan terdekat.

Saya tinggal di lingkungan kampus saat banyak warga kampus telah pulang ke daerah asal mereka masing-masing. Jadi suasana sangat sepi walau kondisi ini sebenarnya normal.

Namun mengetahui bahwa banyak tempat di luar kampus ditutup menunjukkan betapa serius penutupan kota ini. Ini membuat saya merasa aman, tapi tidak ada yang tahu kapan situasi akan kembali normal.

Terkadang terlalu banyak informasi yang beredar karena kami memiliki grup di aplikasi pesan singkat. Semua orang di grup itu mengunggah berita yang mereka baca di internet, jadi sulit mengetahui mana yang benar dan tidak benar.

Saat penutupan kota dilakukan, ada kabar otoritas akan melakukan desinfeksi dengan semprotan dan cairan desinfektan ke udara. Namun kemudian kabar itu terbukti tidak benar.

Kami hanya bisa menunggu pengumuman resmi pemerintah.Desember lalu, ada beberapa pesan di grup perbincangan anggota kelas bahwa SARS kembali muncul. Belakangan kami tahu bahwa yang tersebar adalah virus lain.

Sekarang kami tahu virus itu sedang menyebar keluar kota dan menarik perhatian publik. Namun sekarang terdapat tekanan yang membuatnya menyebar lebih cepat.

Saya adalah mahasiswa internasional. Saya disarankan tidak meninggalkan kamar jika tidak untuk sesuatu yang benar-benar penting. Saya dan kawan-kawan juga harus mengambil upaya pencegahan.

Saya melakukan apa yang disarankan: menjaga tubuh tetap bersih dan tentu saja mengenakan masker.

Karena saya tinggal di asrama kampus, pihak universitas memberi kami masker dan sabun gratis. Mereka menyediakan yang kami butuhkan dan membuat kami merasa aman.