Nurhadi: Titi, Tatak dan Tutuk

Nurhadi (54) adalah salah satu contoh developer daerah yang bisnisnya cemerlang. Selama 18 tahun menekuni bisnis properti, ia sudah mengembangkan perumahan di 22 lokasi. Luas setiap proyeknya pun terus meningkat. Jika sebelum 2010 rata-rata tiga hektar per perumahan, setelah tahun 2010 rata-rata sudah di atas lima hektar, belakangan menjadi rata-rata belasan hektar, bahkan ada yang mencapai 40 ha. Sekarang ia sedang menyiapkan perumahan di atas 100 ha.

Bapak empat anak ini mulai menjadi developer tahun 2001, mengembangkan perumahan subsidi Graha Kencana Jatirogo di kota kelahirannya, Tuban, Jawa Timur. Saat itu ia masih menjabat sebagai Ketua KOPATAS (Koperasi Angkutan Surabaya). Menurutnya, melalui KOPATAS ini pada saat krisis moneter (krismon) ia sukses menangani pengadaan dan pembiayaan angkutan kota 1,500 unit senilai Rp60 miliar di seluruh wilayah Surabaya.

“Pada saat krismon hampir seluruh armada angkutan kota Surabaya kundisinya memprihatinkan, tapi tidak ada perusahaan finance yang berani memberikan leasing. Dealer pun tidak mau memajang mobilnya di show room. Saya berusaha mencarikan solusi menyakinkan tiga bank, yaitu: Bank Muamalat, Bank Syariah Mandiri, dan Bank Bukopin, bahwa melalui skema Kredit Likuiditas Bank Indonesia (KLBI) mereka bisa melakukan sindikasi menyalurkan kredit pengadaan angkutan kota melalui Kredit Koperasi Primer Anggota (KKPA) KOPATAS,” paparnya.

Kurang lebih 10 tahun ia menjadi marketing sepeda motor dan mobil, salah satunya di PT Astra Daihatsu Motor di Surabaya, sebelum total terjun ke bisnis properti.

Rupanya pengalaman tersebut memudahkannya memasarkan rumah. Reputasinya yang bagus saat di otomotif juga membuat kepercayaan perbankan tinggi kepadanya. Tak ayal begitu terjun ke properti pun perbankkan langsung mendukungnya. Kombinasi pengalaman sebagai marketing dan kepercayaan perbankan itu, membuahkan hasil yang sangat positif. Hanya dalam empat tahun ia sudah mengembangkan perumahan subsidi di empat kota: Tuban (satu proyek), Gresik (satu proyek), Surabaya (dua proyek), dan Pasuruan (satu proyek).

Dalam menjalankan bisnisnya ia menganut filosofi Jawa: titi, tatak, tutuk. Titi artinya teliti terhadap semua hal terkait bisnis. Tatak berarti siap menghadapi segala persoalan. Tutuk berarti semua proyek harus dikerjakan sampai tuntas apapun masalahnya.

Walaupun ekspansif di bisnis, Nurhadi tetap aktif di organisasi. Sejak 2006 menjadi Ketua DPD APERSI (Asosiasi Pengembang Permukiman dan Perumahan Seluruh Indonesia) Jawa Timur, selama dua periode. Tahun 2018 sampai sekarang menjadi Ketua Bidang Organisasi Kaderisasi dan Keanggotaan DPP HIMPERRA (Himpunan Pengembang Permukiman dan Perumahan Rakyat).

“Dengan aktif berorganisasi minimal kita memiliki banyak teman, memperluas relasi bisnis, dan selalu update kebijakan-kebijakan pemerintah di bidang perumahan,” ujar Nurhadi, CEO Graha Agung Kencana Group, itu kepada Joko Yuwono dan fotografer Susilo Waluyo dari HousingEstate di sela-sela Kongres HIMPERRA ke-1 di The Sultan Hotel & Residence, Jakarta, medio Desember 2019.

Bisa diceritakan awal Anda jadi developer?

Awalnya diajak teman bisnis kaveling. Selanjutnya 2001 mengembangkan perumahan sendiri. Hingga sekarang sudah 22 perumahan yang kami kembangkan. Seluruhnya di Jawa Timur dan beberapa kota di luar Jawa. Sebelum 2010 luas perumahan kami rata-rata tiga hektar. Setelah 2010 meningkat jadi lima hektar. Lima tahun terakhir sudah sampai 40 ha, seperti perumahan Wisata Bukit Sentul di Lawang, Malang. Bahkan, proyek yang sedang kami siapkan di Bangkalan luasnya 100 ha lebih.

Segmen pasar yang anda bidik?

Kami membidik segmen pasar yang cukup luas. Mulai dari masyarakat menengah bawah (MBR) dengan mengembangkan rumah bersubsidi, kelas menengah, sampai menengah-atas. Tapi dominan kelas menengah. Harga rumah saya rata-rata di atas Rp400 juta. Yang di Surabaya malah di atas Rp1 miliar.

Anda pengurus teras HIMPERRA tapi ternyata rumah MBR-nya sedikit sekali?

Saya kira cukup banyak. Hanya, sudah kami kembangkan pada periode 2001-2004. Melalui PT Graha Agung Kencana kami mengembangkan rumah subsidi di Graha Kencana Jatirogo (Tuban), Graha Kencana Kedanyang (Gresik), Graha Kencana Asemrowo (Surabaya), Graha Kencana Pakal (Surabaya), dan Graha Kencana Rembang (Pasuruan). Sekarang saya sedang menyiapkan perumahan untuk MBR yang luas sekali, 100-150 ha, di Bangkalan, Madura. Lokasinya cukup menarik. Melalui jembatan Suramadu jaraknya hanya 15 km dari Surabaya. Jauh lebih dekat dibandingkan dengan perumahan-perumahan MBR di Gresik yang jaraknya lebih dari 40 km dari Surabaya. Sekarang kami sedang mematangkan lahannya. Pekerjaan rumah kami adalah mengubah mindset orang Surabaya yang selama ini kalau beli rumah subsidi ke Gresik, menjadi ke Bangkalan.

Jadi setelah 2004 fokus mengembangkan rumah komersial?

Betul. Di Surabaya kami mengembangkan perumahan Kebonsari Regency, Graha Kebonsari Elveka, Ketintang Regency, Ketintang Residence, Graha Gunung Anyar, Pagesangan Regency, Grand Semanggi Residence, Green Semanggi Mangrove, dan Wisata Semanggi Mangrove. Di luar Surabaya kami mengembangkan perumahan Graha Juanda Sidoarjo, Green Hill Gresik, Grand Bromo Residence Probolinggo, Graha Mulawarman Balikpapan, Graha Candra Asri Tabanan Bali, Palaran City Samarinda, dan Wisata Bukit Sentul di lawing, Malang.

Kenapa Anda agresif mengembangkan perumahan di luar Surabaya?

Pertama, karena ada kesempatan. Ada yang menawarkan tanah dengan lokasi dan harga menarik. Kedua, meskipun kecil, peluang pasarnya ada. Bahkan, proyek kami tidak jarang jadi ikon di wilayahnya. Contoh di Kendari. Kami menjadi perumahan yang terbaik setelah proyek Ciputra. Harga rumahnya mulai Rp400 jutaan. Kemudian Wisata Bukit Sentul di Lawang, sekarang jadi perumahan paling strategis diapit dua pintu tol setelah beroperasinya tol Pandaan-Malang. Konsumennya orang Surabaya. Lewat tol hanya 40 menit. Sudah 500 unit lebih yang terjual dan sudah dihuni. Awalnya paling murah Rp400 jutaan, sekarang sudah mulai dari Rp650 jutaan satu lantai, Rp1,2 miliar dan tipe khusus Rp2 miliar ada kolam renangnya.

Kemudian di wisata Semanggi, Semanggi Mangrove, dan Semanggi Residence sudah terbangun dan dihuni 1500 unit. Harga rumah satu lantai Rp1 miliar, dua lantai paling murah Rp1,5-2 miliar. Land banking di kawasan wisata Semanggi masih 40 ha.

Apa sih kelebihan proyek Anda?

Desain rumahnya mengikuti tren. Fasilitasnya juga memadai. Ada masjid, fitness centre, dan kolam renang. Hingga sekarang saya sudah membangun sembilan masjid.

Berapa total land bank yang Anda miliki sekarang?

Paling luas di Bangkalan Madura. Sekarang yang bebas sudah 100 ha lebih. Kami targetkan bisa 150 ha. Terus di Balikpapan dan Samarinda (Kalimantan Timur), masing-masing 40 dan 50 ha. Total dengan di wilayah-wilayah lain land bank kami ada 300 ha lebih.

Apakah dapat bocoran ibu kota akan pindah ke Kalimantan Timur, kok punya land bank luas di Balikpapan dan Samarinda?

Ha-ha-ha, .kebetulan saja. Saya sudah menguasinya jauh sebelum Presiden Jokowi mengumumkan lokasi ibu kota baru.

Ada berapa perusahaan untuk mengelola proyek sebanyak itu?

Ada enam perusahaan. Yaitu, PT Graha Agung Kencana, PT Graha Agung Perkasa, PT Graha Agung Permata, PT Graha Agung Kusuma, PT Kusuma Hadi Property, dan PT Bali Rochmat Jaya. Karena PT Graha Agung Kencana yang paling tua umurnya, kami jadikan holding Graha Agung Kencana Group.

Berapa saham Anda di masing-masing perusahaan itu?

Di keenam perusahaan itu saham saya di atas 95 persen. Semuanya saya CEO (chief executive officer)-nya.

Bagaimana Anda mengelola proyek sebanyak itu, sementara Anda juga aktif di organisasi?

Masing-masing perusahaan ada general manager, manajer, dan staf lengkap. Merekalah yang intens mengelola sehari-hari. Mulai dari mengurus perizinan, marketing, pembangunan, sampai serah terima. Termasuk mengajukan kredit ke bank, setiap proyek mengurus sendiri dan harus bisa mengangsurnya sampai lunas. Jadi, kami buat klaster-klaster dengan tujuan kalau satu perusahaan ada masalah, tidak merembet ke perusahaan lain.

Proyek mana yang penjualannya paling bagus saat ini?

Tetap proyek-proyek yang lokasinya di Surabaya. Sementara proyek di Samarinda dan Balikpapan sangat tergantung pasar batu bara. Jika harga hasil tambang sedang bagus, penjualan properti juga ikut bagus. Begitu pula sebaliknya. Tapi, sekarang setelah ada kepastian ibukota negara akan pindah ke Kaltim, penjualan rumah di Balikpapan mulai menggeliat lagi. Di Kendari juga sama. Sangat tergantung hasil tambang. Meskipun pemerintah melarang ekspor hasil tambang mentah, semua perusahaan tambang harus mengolahnya menjadi bahan setengah jadi melalui smelter, tetap tidak menaikkan perekonomian kota itu. Karena karyawan smelter sejauh ini semua dari Cina dan mereka tidak boleh keluar dari komplek.

Bagaimana cara Anda memasarkan perumahan menengah atas saat perekonomian nasional kurang mendukung sepanjang 2019?

Kami memiliki staf marketing internal di masing-masing proyek. Selain itu kami juga melibatkan teman-teman broker untuk membantu memasarkan. Di era digital sekarang kami juga mulai memakai digital marketing, menjaring potential buyer lewat iklan di Google dan lain-lain.

Bagaimana hasil penjualan tahun ini?

Masih jauh dari target. Dibandingkan penjualan tahun 2014-2015, barangkali omzet tahun 2019 hanya 60 persennya.

Apakah anak-anak sudah ada yang dilatih untuk melanjutkan bisnis Anda?

Anak saya yang nomor dua sudah mulai saya libatkan. Anak saya yang nomor satu ikut suaminya tinggal di Portugal. Ia menikah dengan teman kuliahnya dulu saat ambil S2 di Swiss. Anak nomor tiga dan empat masih belajar.

Apa resep Anda bisa berkembang pesat, 18 tahun jadi developer sudah mengembangkan 22 proyek dan memiliki land bank 300 ha?

Saya pakai filosofi orang Jawa: titi, tatak, tutuk. Titi artinya dalam menjalankan bisnis kami harus berhati-hati. Misalnya, beli tanah legalitasnya harus lengkap, sesuai peruntukan tata ruang, tidak dalam sengketa, dan lain-lain. Tatak artinya jika dalam mengembangkan proyek di tengah jalan menghadapi masalah, harus dihadapi dengan baik, tenang, dan dicarikan solusi yang terbaik. Kemudian, tutuk artinya semua proyek yang dikembangkan harus dikerjakan sampai selesai. Bagi kami komitmen kepada konsumen nomor satu.

The post Nurhadi: Titi, Tatak dan Tutuk appeared first on HousingEstate.