Kelebihan dan Kekurangan Rapid Test Virus Corona, Seberapa Efektif?

Rapid test atau tes cepat untuk mengidentifikasi COVID-19 kini tengah dilaksanakan. Wilayah pertama yang menjadi fokus dari upaya ini adalah Jakarta Selatan. Pemerintah menjanjikan wilayah lain segera mendapatkannya secara bertahap.

Melalui konferensi pers yang disiarkan secara live melalui YouTube BNPB, jubir untuk penanganan virus corona Indonesia, Achmad Yurianto mengatakan bahwa pelaksanaan rapid test akan disinergikan dengan tracing pada kasus yang positif. 

Jadi, semua orang yang dekat atau bersinggungan dengan pasien positif COVID-19 akan didatangi dan menjalani rapid test. Dalam artian lain, semua orang yang menjadi ODP (orang dalam pemantauan) adalah fokus utama dari rapid test saat ini. 

Namun berbagai pro dan kontra pun menyeruak sebagai respons dari upaya tersebut. Pasalnya, tes cepat untuk virus corona itu tidak sepenuhnya bisa diandalkan karena sejumlah faktor. Kira-kira akankah rapid test menjadi cara yang efektif? Berikut ini penjelasannya!

1. Keakuratan rapid test masih tergolong rendah

Kelebihan dan Kekurangan Rapid Test Virus Corona, Seberapa Efektif?

Mengutip keterangan resmi Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Klinik dan Kedokteran Laboratorium Indonesia (PDS PatKLIn), terdapat empat tingkat kepercayaan dari prosedur deteksi patogen (mikroorganisme penyebab penyakit). Di antaranya adalah level kultur, molekular (DNA atau RNA), antigen, dan yang terendah adalah antibodi. 

Masih dari sumber yang sama, tingkat kepercayaan tertinggi untuk deteksi virus corona adalah melalui pemeriksaan molekular. Namun rapid test yang tengah berjalan ini hanya bisa mendeteksi sampai tingkat antibodi, yaitu level terendah dari tes patogen. Ini karena tes tersebut menggunakan spesimen darah. 

2. Ada kemungkinan hasil false negative atau negatif palsu

Kelebihan dan Kekurangan Rapid Test Virus Corona, Seberapa Efektif?

Implikasi pertama yang terjadi karena rendahnya tingkat akurasi rapid test adalah adanya kemungkinan hasil false negative. Ini berarti orang yang sebenarnya terinfeksi virus corona dinyatakan negatif melalui tes tersebut. 

Prof. Dr Aryati, dr.,MS., SpPK (K), Clinical Pathology Consultant dari Universitas Airlangga menjelaskan bahwa terdapat dua faktor yang menyebabkan false negative ini terjadi. Yang pertama adalah belum terbentuknya antibodi saat pengambilan sampel.

Ini karena antibodi yang dihasilkan dari reaksi terhadap patogen, termasuk virus, baru terbentuk minimal hari keenam setelah infeksi terjadi. Namun biasanya ia baru bisa ditemukan antara hari ke-8 hingga 12 sejak timbulnya gejala. 

Sedangkan faktor kedua adalah pasien mengalami immunocompromised, yaitu gangguan pembentukan antibodi. Hal ini biasa disebabkan karena pasien memiliki riwayat penyakit seperti diabetes, kanker, gagal jantung, atau sedang menjalankan pengobatan tertentu. 

3. Ini yang harus dilakukan jika kamu mendapatkan hasil tes negatif

Kelebihan dan Kekurangan Rapid Test Virus Corona, Seberapa Efektif?

Bisa disimpulkan dari penjelasan di atas bahwa hasil tes yang negatif belum tentu menggambarkan bahwa seseorang benar-benar terbebas dari COVID-19. Masih ada kemungkinan tertular tapi respons imunitas belum muncul.

Itulah kenapa orang-orang dengan hasil tes negatif harus tetap berada di rumah dan menghindari kerumunan. Sedangkan Dr. Aryati merekomendasikan metode berikut ini:

“Apabila ditemukan hasil negatif, harus dilakukan pengambilan sampel ulang tujuh hingga sepuluh hari kemudian,” jelas Dr. Aryati melalui keterangan resminya. 

Dalam kurun waktu tersebut, antibodi kemungkinan besar sudah terbentuk jadi rapid test bisa memberikan hasil yang lebih akurat. Pemeriksaan ulang ini tampaknya diiyakan oleh Yurianto. Ia mengaku bahwa tes akan dilakukan dua kali untuk orang yang hasilnya negatif.

4. Ada pula kemungkinan false positive atau positif palsu

Kelebihan dan Kekurangan Rapid Test Virus Corona, Seberapa Efektif?

Selain false negative, rapid test juga bisa memberikan hasil false positive. Dalam kondisi ini, orang yang sebenarnya tidak terinfeksi justru dinyatakan positif virus corona.

Bagaimana bisa kesalahan seperti itu terjadi? Dr. Aryati mengemukakan bahwa terdapat dua faktor yang menjadi penyebabnya, yaitu cross reactive antibodi dengan virus lain atau riwayat infeksi coronavirus jenis lain. 

Untuk faktor pertama, ada kemungkinan seseorang sedang terinfeksi virus lain yang memiliki  kemiripan dengan virus corona. Misalnya flu, demam berdarah, atau yang lainnya. Tubuh bisa menghasilkan antibodi yang mirip pula dengan reaksi untuk virus corona. Ini disebut sebagai reaksi silang. 

Sedangkan untuk faktor kedua adalah adanya riwayat infeksi coronavirus di masa lampau. Misalnya pernah terkena SARS atau penyakit yang disebabkan oleh coronavirus jenis lainnya. 

5. Ini yang harus dilakukan jika kamu mendapatkan hasil tes positif

Kelebihan dan Kekurangan Rapid Test Virus Corona, Seberapa Efektif?

Seseorang yang mendapatkan hasil rapid test positif harus dikonfirmasi ulang dengan tes Polymerase Chain Reaction (PCR), menurut Dr. Aryati. PCR merupakan pemeriksaan tingkat molekular yang dilajukan dengan swab atau mengusap dinding hidung dan mulut belakang pasien. Tes itulah yang akan menentukan seseorang benar-benar positif atau tidak. 

Lebih lanjut, Yurianto mengatakan bahwa pasien positif yang tidak memerlukan perawatan karena gejala yang tidak terlihat atau ringan akan diminta untuk karantina diri di rumah. Selain untuk menghindari kontak lebih lanjut dengan pasien positif lainnya, ini bertujuan untuk meringankan kerja para petugas medis. 

Tak perlu panik dulu jika hasilmu positif. Masih ada beberapa kemungkinan yang bisa saja terjadi. Yang paling penting adalah isolasi diri, jaga kesehatan, kebersihan, dan selalu berpikiran positif. Virus tidak akan berlama-lama di tubuh yang sehat. 

Kelebihan dan Kekurangan Rapid Test Virus Corona, Seberapa Efektif?

Jika prosedur yang telah dijelaskan di atas benar-benar diterapkan, maka rapid test akan menunjukkan hasil yang akurat. Namun perlu diingat bahwa upaya ini membutuhkan dukungan penuh dari semua kalangan, mulai dari pemerintah, pakar, petugas medis, dan juga masyarakat.

Ikutilah semua prosedur yang ditetapkan dengan baik. Jangan lupa pula patuhi anjuran untuk social distancing, menghindari kerumunan, dan tetap di rumah saja jika tidak ada keperluan yang mendesak. Dengan begitu, wabah virus corona ini bisa segera usai.