Sentimen Eksternal dan Internal Bayangi Pergerakan Rupiah

Dproperty.co.id | Jakarta – Di pekan ini, Kamis (30/7/2020) Agenda penting pernyataan Federal Open Market Committee (FOMC statement) akan rilis.

Analis dan ekonom mengatakan fokus pelaku pasar pada FOMC statement kali ini bukan pada pernyataan mengenai tingkat suku bunga The Fed, melainkan kebijakan stimulus baru.

Analis Monex Investindo Futures Faisyal mengamati hingga saat ini belum ada potensi suku bunga The Fed akan berubah.

Senada, Ekonom Samuel Sekuritas Ahmad Mikail Zaini memproyeksikan suku bunga The Fed tetap di 0%-0,25%.

Sementara itu fokus pelaku pasar kini tertuju pada Kongres AS yang sedang membahas paket stimulus baru senilai US$ 1 triliun.

“Pelaku pasar menunggu hasil keputusan stimulus moneter apa lagi yang bisa The Fed berikan, bukan berharap pada penurunan suku bunga,” kata Faisyal.

Tentunya pelaku pasar berharap The Fed akan menambah stimulus. Faisyal mengatakan jika stimulus tambahan digelontorkan maka dolar AS berpotensi melemah dan rupiah bisa tertopang menguat.

Mikail memproyeksikan FOMC statement cenderung bernada dovish karena pertumbuhan ekonomi AS masih melambat.

“Rupiah bisa ikut melemah bila The Fed dovish, tetapi muncul harapan rupiah bisa menguat dari penantian keputusan stimulus moneter AS,” kata Mikail.

Namun, masih banyak faktor lain yang menggerakkan rupiah. Selain FOMC statement, Faisyal mengatakan perkembangan vaksin Covid-19 dan jumlah pasien positif korona juga akan mempengaruhi pergerakan rupiah.

Selain itu, jelang FOMC statement pergerakan rupiah juga banyak terpengaruh dari ketegangan AS dan China yang kini saling membalas menutup konsulat.

“Ketegangan AS dan China cenderung melemahkan rupiah, meski di waktu yang sama perkembangan vaksin,”

“Di dalam negeri sejatinya membawa katalis positif bagi rupiah,” kata Faisyal.

Alhasil, Faisyal memproyeksikan pergerakan rupiah di pekan ini cenderung melemah. Rentang sepekan di Rp 14.500 per dollar AS-Rp 14.900 per dollar AS.

(sumber: transbisnis.com)