Kadin : Penerapan Prokes di Dunia Usaha Makin Ketat

mediasumutku.com| MEDAN- Secara perlahan dunia usaha semakin ketat dalam menerapkan protokol kesehatan. Penerapan ini berlaku baik bagi pekerja maupun tamu.

“Protokol kesehatan standar yang disampaikan pemerintah semua sudah mulai menerapkan. Ini berlaku baik bagi pekerja dan juga tamu yang berkunjung ke tempat kerja. Misalnya tempatnya ditata lagi sehingga tersedia beberapa tempat lokasi untuk cuci tangan,” kata Direktur Eksekutif Kadin Sumut Hendra Utama, Selasa (3/11/2020).

Selain itu, dari sisi penggunaan masker atau face shield sudah menjadi standar wajib penggunaannya di dunia usaha. Pengukuran suhu badan juga selalu dilakukan.

“Pada perusahaan pengecekan suhu tubuh juga diwajibkan. Ada yang menggunakan alat manual dimana ada petugas yang mengecek, ada juga perusahaan yang menggunakan alat ukur suhu otomatis, thermal scanner,” jelasnya.

Sedangkan untuk menghindarkan kerumunan, pekerja dibagi per shift. Ada yang WFH (Work From Home), ada pula yang masuk kerja.

“Lokasinya juga di set up agar tidak berkumpul terlalu padat. Walaupun memang ada kendala karena ada pekerjaan dimana orang-orang mengerjakannya harus berkumpul. Makanya kita memang harus bisa beradaptasi dengan kebiasaan baru ini,” katanya.

Kadin juga selalu berkoordinasi dan selalu mengimbau perusahaan untuk menerapkan protokol kesehatan. Selain itu juga Kadin menyediakan panduan-panduan berupa SOP penerapan protokol kesehatan di dunia industri, pariwisata, dan sebagainya.

“Jadi memang tergantung perusahaannya, SOP itu kan hanya contoh. Penataan tempatnya itu tergantung kondisi dan kemampuan perusahaan. Tenaga kerja juga dilakukan penyesuaian karena dari sisi produktivitasnya juga tergantung dengan kondisi pandemi saat ini,” katanya.

Untuk sektor usaha yang langsung berhadapan dengan konsumen seperti restoran, supermarket, dan sebagainya pihaknya terus mengimbau pengusaha untuk menerapkan protokol kesehatan.

“Pemerintah juga melakukan monitoring. Tapi kan di lapangan banyak hal yang bisa mempengaruhi, misalnya dari sisi konsumen. Kalau masuk ke swalayan misalnya, bisa saja konsumennya tertib karena ada peraturan kalau tidak ada masker tidak bisa masuk,” katanya.

“Sedangkan kalau di pasar tradisional atau cafe dengan begitu banyaknya orang, belum tentu juga banyak yang pakai masker. Tapi kami terus berkomunikasi dengan pengelola agar penerapannya bisa dilakukan semaksimal mungkin,” pungkasnya. (MS11)